Laman

Senin, 27 Mei 2013

MJIB - 15. Tradisi Islam di Tengah Kehidupan Masyarakat Bali

_______________________________
Oleh : Achmad Suchaimi



Megibung : Tradisi makan bersama


Tradisi Unik “Megibung” 
Di Kampung Islam Kepaon Denpasar


Bagi masyarakat Bali, tradisi megibung, tradisi makan bersama dalam satu wadah, merupakan salah satu tradisi warisan leluhur. Selain makan bisa sampai puas dan tanpa rasa sungkan, megibung penuh nilai kebersamaan, bisa sambil bertukar pikiran, bersenda gurau, bahkan bisa saling mengenal atau lebih mempererat persahabatan sesama warga. Makan bersama atau megibung ini, dalam setiap satu wadah terdiri dari 5-8 orang, semua duduk berbaur dan makan bersama, tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan juga perbedaan kasta ataupun warna. Tapi pada perkembangan berikutnya antara laki dan perempuan dipisahkan.  
 
Konon, Tradisi megibung di Bali ini dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok. Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar yang belakangan dikenal dengan nama Megibung. Bahkan, raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.

Perkampungan Islam di Denpasar dapat ditemukan di Kampung Jawa, kampung Kepaon dan Serangan. Orang-orang Islam di Kepaon dan di pulau Serangan adalah keturunan  prajurit asal Bugis. Kampung yang mereka tempati sekarang merupakan hadiah raja Pemecutan. Bahkan, hubungan warga muslim Kepaon dengan lingkungan puri (istana) hingga sekarang masih terjalin baik. Konon, jika diantara warga muslim Kepaon terlibat gesekan-gesekan dengan komunitas lain, Raja Pemecutan turun tangan membela mereka. Mereka cukup disegani.  
Kampung Islam Kepaon Denpasar Selatan punya tradisi unik kala datangnya bulan Ramadhan, yaitu tradisi megibung. Megibung sendiri secara harfiyah berasal dari bahasa Bali yang berarti makan bersama-sama dalam satu wadah.  

 Aktivitas yang mereka lakukan memang hanya kumpul-kumpul bareng sambil menikmati santap makan malam yang sudah dipersiapkan oleh warga secara bergiliran. Karena bergantian, menu yang disajikan pun tentunya bervariasi. Tradisi seperti ini sudah turun temurun sejak Islam masuk ke Bali, sejak zaman kerajaan lebih dari 500 tahun silam, dan merupakan kegiatan rutin untuk memupuk rasa silahturahmi antar warga, disamping untuk meningkatkan nilai ibadah di bulan suci.
Tradisi megibung merupakan acara tasyakuran yang dilakukan oleh penduduk muslim Kampung Kepaon di bulan Ramadhan, setelah mereka berhasil mengkhatamkan pembacaan al-Qur’an 30 juz di majlis tadarusan.   

Megibung di Masjid
Sama halnya di kampung-kampung lain yang berpenduduk mayoritas muslim, bahwa setiap ramadhan tiba, penduduk kampung Kepaon mengadakan tadarusan Al-Qur’an di masjid Al-Muhajirin Denpasar atau musholla sehabis sholat tarawih. Yang membedakannya adalah adanya tradisi tasyakuran yang disebut Megibung setiap kali mengkhatamkan pembacaan Al-Qur’an 30 juzz. Acara tadarusan Al-Qur’an ini melibatkan banyak orang,  dimana mereka membaca Al-Qur’an secara bergantian : seorang bertindak sebagai pembaca dan yang lainnya menjadi penyimak, sehingga dalam waktu antara 7 - 10 hari mereka dapat mengkhatamkan al-Qur’an 30 juz. Dengan begitu, acara Megibung paling tidak mereka lakukan sebanyak 3 atau 4 kali selama bulan Ramadhan.  

Megibung setelah berdoa
 Tradisi Megibung biasanya dilaksanakan setelah buka puasa. Tradisi ini diawali dengan buka bersama di masjid atau surau tempat tadarusan dilaksanakan, dilanjutkan dengan sholat magrib secara berjamaah. Selesai sholat maghrib, mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengelilingi sebuah baki atau nampan yang berisi nasi tumpeng beserta lauk pauknya. Setelah salah seorang pemuka agama (Kiai, Mudin, Ustadz) selesai membaca doa, mereka ramai-ramai menyantap makanan secara bersama-sama layaknya tradisi makan di Timur Tengah. Dan yang lebih unik lagi, bahwa makanan untuk megibung ini didapat dari kiriman warga secara sukarela. Siapapun boleh ikut makan, dan tidak terbatas pada warga Kepaon, bahkan warga yang beragama lain (Hindu) pun boleh nimbrung makan bersama.
Setiap Ramadan datang, umat Hindu menghormati orang Islam yang berpuasa. Ketika berbuka puasa, umat Hindu ada yang ngejot (memberikan dengan ikhlas) ketupat. 
 
Apalagi saat Idul Fitri datang, umat Hindu mengirimkan buah-buahan kepada saudaranya yang muslim, sementara pada hari raya Galungan, umat Islam memberikan ketupat (minimal anyaman ketupat). Tidak ada pencampuradukan ajaran agama dalam hal aqidah dan ibadahnya. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku, namun hidup tetap rukun.





Tidak ada komentar: